Mirror

Seperti maksud awal mengapa aku ingin membuat blog ini, aku ingin menceritakan tentang diriku, kisah hidupku dan apa yang ingin kulakukan, apa yang kuharapkan dan bagaimana aku menjalaninya. Hari ini, aku akan kembali memperkenalkan diriku. Bagaimana aku terlihat.

Kelas 6 SD menjadi masa yang sulit untukku. Saat itu aku masih di suatu kota bernama Semarang. Aku bahagia ada di kota ini. Aku sekolah di sekolah swasta yang cukup bagus. Apa perlu aku menyebutkan nama sekolah itu? Aku sangat bangga ketika aku dapat mengatakan pada orang lain bahwa aku pernah sekolah di sana. Banyak sekali Chinese dan kamu pasti tahu kebanyakan Chinese itu enak dipandang. Bahkan mama dan papa memasukkan kami berempat kesana (aku dan putri, raka, anggun). Kami bukan termasuk golongan Chinese, kami lebih banyak mirip ke mama yang punya gen putih daripada papa yang coklat. Walaupun katanya papa dulu itu putih tapi karena bandel dan suka main, papa jadi coklat.

Well, kehidupan sekolahku saat di kelas 6 SD itu seharusnya baik-baik saja. Saat itu bahkan aku sudah memiliki pacar. Namanya Alan. Pacaran saat dulu berbeda dengan pacaran saat ini. Dulu bahkan kami tak pernah memeluk. Jangankan memeluk, berpegangan tangan pun jarang. Berpacaran adalah status bahwa “dia milikku dan aku miliknya, dan aku tidak boleh dekat lelaki manapun selain dia”. Sampai suatu waktu, karna aku ini tomboy dan aku lebih suka main dengan kebanyakan laki-laki, akhirnya saat pulang sekolah dia meminta aku menemuinya. Di suatu lorong yang sepi, temannya yang lain menjaga di ujung lorong kalau-kalau ada guru yang lewat. Bukan bermaksud untuk mesum. Tapi dia hanya mengajakku berbicara. Dia duduk dan aku berdiri. Sambil dia menatapku dia bilang “kamu tau ga sih, aku tuh pencemburu dan pemalu”. Dan aku hanya bisa tertawa terlebih saat aku lihat wajahnya memerah. “ohhhh… so cute” pikirku. Itu yang sampai saat ini ga pernah bisa aku lupain.

Dan lagi aku memiliki guru yang sangat baik tapi galak. Pasti membingungkan bukan? Tapi memang seperti itulah guru SD ku ini. Dia galak karna ketika dia tahu muridnya tidak mematuhinya, dan tidak mengikuti apa yang diperintahkannya. Dia adalah sosok guru yang sangat tegas. Namanya Bu Agustin. Karna kami akan menghadapi ujian maka kami harus menghafal banyak materi. Dia memberikan materi kepada kami di selembar kertas, kemudian meminta kami untuk memfotokopi dan menempelkannya di buku tulis kami. Keesokan harinya kami harus mengikuti kuis atas materi yang diberikan kemarin. Padahal materi kemarin bukan hanya selembar, tapi berlembar-lembar. Apalagi materi ilmu pengetahuan sosial saat itu, kami harus menghafalkan nama negara, berapa luas wilayah, jumlah penduduk, mayoritas agama, musim yang ada di negara itu, apa saja hasil perkebunan atau perikanan, ibu kotanya dimana, dan bla bla bla. Saat itu, dalam satu hari kami dapat menghafalkan satu bagian dari benua misalnya Amerika Utara. Dan lagi, kami menghafal seluruh negara di semua benua. Itu hanya salah satu mata pelajaran. Ada berapa pelajaran? Banyak. Tapi satu hal yang harus diketahui, dia adalah sosok satu-satunya yang dapat membuat nilaiku menjadi naik. Bahkan aku mendapat peringkat ketiga dalam setengah semester setelah sebelumnya aku tidak pernah masuk ke dalam lima besar. Dia satu-satunya, yang membuka mataku dan hatiku hingga saat ini bahwa aku suka menghafal dan aku ingin belajar. Dan dia adalah sosok guru yang sangat dekat denganku, bahkan saat ulangtahunnya, ketika aku ingin memberikan hadiah berupa kue, dia sudah tahu bahwa aku akan memberinya kejutan. Karna memang, kakakku yang diajarnya dulu juga seperti itu. Dan bagi kakakku, dia juga merupakan guru terbaik kami.

Dua hal yang paling kuingat dari guru terbaikku ini. Pertama, dia adalah guru yang rela mengorbankan segalanya untukku agar aku dapat mengikuti ujian nasional. Saat itu, karna suatu masalah keluarga aku harus pergi dari sekolahku ini, aku harus meninggalkan semua materi yang selama ini telah aku hafalkan, meninggalkan semua teman-temanku, pacarku, guruku dan ujian nasionalku. Secara tiba-tiba kami harus pergi. Dan saat itu, karna terlalu mendekati ujian aku tidak diijinkan masuk sekolah manapun. Hanya satu pilihan, aku kembali ke sekolahku yang lama. Tapi keadaan itu tak memungkinkan. Kami sedang tak ingin dilihat manapun. Dan saat aku ingin melepas rinduku pada sekolahku, aku iseng untuk menelpon guruku tersayang ini. Katanya pada mamaku “apapun akan saya lakukan, saya akan membiayai anak anda, semuanya, apapun yang dibutuhkan asalkan dia bisa mengikuti ujian nasional”. Aku menangis. Dalam hatiku aku ingin kembali tapi itu tak mungkin. Dan akhirnya aku hanya bisa membiarkan ujian nasional berlalu begitu saja. Aku telah melewatkan satu tahun pendidikanku. Itu mengerikan karna hingga saat ini aku selalu merasa aku lebih tua diantara teman-teman seangkatanku.

Dan yang kedua, Bu Agustin pernah mengatakan padaku saat ia menyerahkan nilai untukku. Sesuatu yang kusebut “kelemahan”. Katanya, gigimu itu kalau tidak dikawat nanti bisa terus maju. Coba ajak bicara kedua orangtua dan minta untuk segera dikawat biar kamu cantik. Ini adalah pertama kalinya aku memikirkan tentang diriku. Aku tak pernah sekalipun memperhatikan itu. Saat itu, tidak terlalu terlihat jadi aku tidak pernah menggubrisnya. Sampai Bu Agustin yang mengatakannya. Dan aku cukup sedih mendengarkan terlebih saat aku mengatakannya pada mama, karna saat itu papa sedang tidak ada jadi pemasukan mama menipis. Percakapan itu berlalu begitu saja. Hilang. Tak pernah lagi kami mengungkitnya karna setelah itu sesuatu yang besar terjadi dan itu lebih lebih dan lebih lagi membuatku enggan untuk memintanya pada orangtuaku.

Inilah cerminan diriku. Kalian pasti bisa membayangkannya saat ini. Sejelek apa aku ini. Aku malu? Iya aku sangat malu. Bahkan aku tak mengungkapkannya kepada siapapun. Siapapun. Bahkan mama dan papa. Aku sangat ingin merubah keadaanku. Tapi mungkin belum saatnya. Aku hanya merasa sangat sedih saat orang lain mengejekku dengan kelemahanku itu. Terutama saat SMP. Seseorang menyukaiku dan memintaku untuk menjadi pacarnya dan ketika aku menolaknya dia justru mengejekku dengan kelemahanku. Aku sedih. Kecewa. Aku benci mereka yang mengejekku. Bahkan adikku pernah sekali melakukannya padaku. Saat itu kami sedang bertengkar dan akhirnya kata-kata itu muncul “untu maju”. Aku hanya terdiam dan merasakan marah, sedih sedalam-dalamnya. Bagaimana bisa satu keluarga tapi saling menghina dengan kelemahan yang lain. Aku tak pernah berpikir dia akan mengatakannya. Dan dia berhenti mengatakan itu saat mama memarahinya. Dan dari sana, aku berpikir, aku mulai membencinya.

Aku sangat malu ketika aku harus menuliskan ini. Aku seringkali berhenti. Apa aku yakin menuliskannya? Apakah tak apa ketika orang lain mengetahuinya? Mungkin jika ada yang mengenalku dengan tulisanku saat ini. Aku akan merasa sangat malu. Tapi … mungkin dari sinilah aku harus memulainya. Mencoba untuk menerima diri ini. Keadaan ini. Kelemahan ini. “Learning to love yourself, it is the greatest love of all”, lagu ini yang akan selalu membuatku bersabar dan menerima setiap apa yang ada pada diriku. Setiap kelemahanku. Karna inilah aku.

Dan harapanku ke depan, aku berharap aku bisa menutupinya dengan kelebihanku yang lain. Atau lebih jauh lagi, aku ingin memperbaikinya. Aku menunggu saat-saat aku bisa memperbaikinya. Saat nanti aku telah bekerja sendiri, mendapatkan penghasilan sendiri, maka aku akan memperbaiki ini.

Dan aku akan mewujudkannya.

Behave, Ola!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s