One Day …

Good morning everyone …

Well pagi ini aku pengen share ke kalian kisahku dan pengalamanku. Asal mula petualangan aku ini dimulai. Pengubah segalanya. Jika ditanya, apakah aku menyesalinya, iya sesekali aku menyesalinya. Tapi satu sisi lain, aku harus mengambil hikmah dari setiap apapun yang terjadi, apapun masalah kita. Is it? Kita diuji oleh Tuhan karna Tuhan tahu kita akan mampu menghadapinya. Dikatakan sulit memang sulit. Tapi kata Tuhan, ini untuk menjadikan aku dan keluargaku lebih kuat dan untuk mencapai suatu kesuksesan memang dibutuhkan pengorbanan, usaha, kesulitan. Dan mungkin inilah pengorbanan itu.

Masih ingatkah ceritaku yang lalu? Saat aku masih kelas 6 SD. Disinilah awal kisah kami bermula. Saat itu baru beberapa hari dan belum ada satu minggu aku dapet surat yang isinya kalau aku ini berhasil meraih rangking III. Kemudian yang terjadi adalah papa mendapatkan masalah yang berujung pada dirinya yang harus melarikan diri. Entah apa kesalahannya. Tapi yang kutahu dia sedang berurusan dengan Chinese. Papa pergi entah kemana tanpa diketahui sipapun. Bahkan mama atau keluarga papa yang lain. Tak satupun tahu.

Mama mencoba bertahan menghidupi kami saat itu dengan bekerja dimana saja. Mama mengajar tari di TK- TK seperti TK Pelangi, TK Sang Timur, Semarang 2000 dan TK KiddyLand, sebuah TK untuk anak-anak yang sedari kecil diajarkan Bahasa Inggris. Bahkan keseharian mereka menggunakan Bahasa Inggis. Mau tak mau mama juga belajar Bahasa Inggris dari sana, Selain itu, mama juga bekerja sebagai seorang perias, bawahan eyang yang memang namanya telah dikenal leh kalangan perias di Semarang. Tapi satu hal tentang pekerjaan mama yang satu ini, mama tak pernah mendapatkan bayarannya. Mama hanya mengikuti perintah eyang sebagai menantu yang harus patuh pada mertuanya. Eyang juga sering menyewakan baju-baju pengantin, kebaya dan sebagainya tapi sekali lagi mama tak pernah mendapatkan bayaran apapun. Mama juga melakukan pekerjaan yang lain, sebagai makelar jual beli motor dengan jaminan BPKP dan mama juga sebagai bawahan eyang. Eyang memang memiliki banyak pekerjaan, sangat kreatif, tapi selalu dialihkan kepada mama. Dan setiap kesalahan yang eyang lakukan, akan ia katakan pada pelanggannya bahwa itu adalah kesalahan mamaku. Hingga pernah eyang menjaminkan BPKP motor milik orang lain, ketika motor ini akan diambil, BPKP ini tidak ada. Eyang menyalahkan mama yang katanya tak mumpuni dan katanya pada pelanggan bahwa semua yang mengurus adalah mamaku.

Kalian pasti tahu apa yang akan terjadi kemudian. Ketika suatu malam kita semua sedang tertidur lelap. Tiba-tiba ada suara mobil polisi datang, bukan karna ada maling di daerah sekitar kami, tetapi ia berhenti di depan rumah kami dan langsung masuk ke dalam rumah kami. Ada beberapa polisi disana dan satu perempuan Chinese. Mama keluar, ke ruang tamu, mempersilahkan mereka untuk duduk dan maksud kedatanngan mereka. Perempuan Chinese itu langsung mendatangi mama dan marah-marah sama mama. Sambil berdiri kedua tangannya mendorong mama sampai mama terduduk. Dan si perempuan itu tadi masih melanjutkan amarahnya. Mama mencoba menjelaskan tapi selalu dipotong. Terus seperti itu. Sampai tetangga-tetangga semua datang mengerumuni rumah kami. Bertanya ada apa, apa yang sedang terjadi, siapa yang ditangkap dan kenapa. Aku tahu pasti mama malu. Kami juga. Tapi rasa malu saat itu tertutupi dengan pedihnya hati kami saat ibu kami dimaki-maki orang. Sedih. Aku, kakakku, dan dua adikku hanya melihat dari balik tembok. Saat mama didorong dan dimarah-marahi. Sumpah serapah sudah aku ucapkan. Bahkan kami memiliki nama untuk perempuan Chinese itu dengan sebutan ‘Cina Leng-Leng’. Entah bagaimana asalnya nama itu tapi kami merasa itu nama yang paling buruk. Entah kami sudah mendoakan apa saja, ‘semoga dia kecelakaan dan mati’ atau ‘semoga orang itu bla  bla  bla’. Aku kesal. Kami kesal. Terlebih saat mama dibawa polisi-polisi itu ke dalam mobil polisi. Aku kesal. Marah. Sedih. Kami menangis. Bagaimana bisa mama dibawa. Lalu bagaimana sekolah kami besok pagi. Mama hanya berpesan ‘sekarang yang memegang kendali keuangan keluarga itu mbak putri, besok kalian berangkat sekolah, mama besok pulang’.

Malam itu berakhir dengan mama yang dibawa pergi. Papa menghilang. Tak ada siapapun orang di rumah selain kami. Kami hanyalah anak-anak kecil. Kami masih SD. Kecuali kak putri yang saat itu kelas 1 SMP. Bisa apa anak kelas 1 SMP mengatur keuangan keluarga. Kami tidak tidur sepanjang malam. Kami hanya memikirkan apa yang dapat kami lakukan esok. Kami merindukan ibu kami.

Dan siapa yang kami salahkan saat itu? ‘Cina Leng-Leng’. Karna saat itu aku tak pernah tahu bahwa eyangku lah dibalik semua ini. Dan ia melepaskan tanggungjawabnya dan mengatakan bahwa itu adalah salah mama. Padahal mama tak pernah sedikitpun mendapatkan uang dari eyang. Aku benci eyang. Aku benci sekali. Dia yang memisahkan kami.

Dan dari malam inilah, hidupku, kakakku, adik-adikku berubah. Segalanya tak lagi sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s