Dilema

Selama empat bulan ini, semua hal yang kujalani bersamanya bukan berarti tanpa adanya rasa sayang. Aku menyayanginya. Aku bahagia dengannya. Aku bangga memilikinya. Dia tak pernah berhenti membuatku bahagia. Dia yang slalu bertahan, slalu menenangkanku, slalu mengalah, slalu percaya padaku, rela berkorban untukku, rela jika aku masih menyayangi orang yang lain dan orang yang rela jika aku bersama yang lain asalkan benar aku bahagia. Aku tak mengerti, apa ini sungguh yang dinamakan dengan ‘sayang’? bahkan aku tak pernah rela jika ia bersama yang lain. Bahkan aku termasuk orang yang pecemburu.  Tapi dia mau menerima ku. Menerima segala kekuranganku. Aku bukanlah orang yang pantas untuk dibanggakan, parasku juga tak cantik, dan mungkin aku lah yang slalu ingin mengakhiri hubungan ini dengannya. Dan kini aku memiliki perasaan itu lagi, aku ingin mengakhiri ini.

Aku telah menyakitinya begitu banyak. Terlalu banyak. Dan aku tak mampu untuk membuatnya bahagia. Aku hanya akan menjadi seseorang yang melelahkan untuknya. Terlebih, mungkin ini sudah cukup untuk membuatnya sakit karna aku belum bisa melupakan ‘dia’, seseorang yang juga pernah ada di hatiku. Setiap hal yang kulakukan dengannya membuatku mengingat ‘dia’.

Dan jika aku diijinkan untuk jujur, entah ini sungguh yang kurasakan atau aku hanya mencari alasan. Mungkin awal mula hubungan ini pun bukan karna aku menyayanginya tapi karna aku tak ingin terluka. ‘dia’ ingin mengakhiri hubungannya denganku dan untuk membuatku baik-baik saja, untuk memastikan bahwa aku takkan terluka seperti dulu lagi, untuk memastikan aku bisa menjaganya hanya untukku. Aku memutuskan untuk bersama yang lain, yang hingga saat ini telah empat bulan aku menjalani hubungan ini. Dan aku tak ingin lagi melukainya lebih dalam. Mungkin sudah seharusnya cukup sampai disini.

Haruskah berakhir saat ini ?

Aku telah berulang kali mengatakan padanya untuk berhenti dan mengakhiri saja hubungan ini. Namun terakhir aku mengatakan hal itu, dia bilang ‘aku ga akan nyerah, lain kali kalo kamu bilang putus lagi aku gamau, aku mau sama kamu dan aku bahagia sama kamu, aku ga akan putus sama kamu’. Dan entah kenapa aku tenang mendengarnyaa. Aku tertawa. Apa aku ikut bahagia?

Mungkinkah aku mulai menyayanginya lebih ?

Apa mungkin aku mulai menyayanginya lebih? Selama ini aku bahagia bersamanya. Meski berkali-kali bertengkar tapi bukankah dalam sebuah hubungan memang diperlukan adanya pertengkaran kecil untuk membuat hubungan itu tidak membosankan? Dan entah bagaimana masalah diantara kami terselesaikan tidak terhitung sampai satu hari. Entah aku atau dia yang akan menghubungi lebih dulu. meminta maaf. Kemudian satunya lagi juga akan minta maaf. Dan berakhirlah permasalahan diantara kami. Begitu terus. Bukankah seharusnya hubungan ini akan bertahan untuk waktu yang lama?

Sampai suatu saat

Sampai di suatu saat aku mulai menjadi overthinking. Aku selalu berpikir tak seharusnya aku bersamanya. Aku seharusnya bersama dengan ‘dia’. Seharusnya saat itu aku menyelesaikan masalahku dengan ‘dia’. Seharusnya aku tak membuat keputusan untuk bersamanya. Aku hanya takut jika ‘dia’ menghianatiku dan aku akan terluka. Padahal yang terjadi saat ini adalah justru aku yang menghianati ‘dia’. Aku menyesalinya karna saat ini aku menyakiti keduanya. Dan aku masih menyayangi ‘dia’. Aku sangat menyayanginya. Aku merindukannya. Setiap saat. Aku selalu mengingatnya di setiap aku terbangun, di saat aku menjalani hidupku dan disaat aku ingin tidur. Apa yang dia lakukan, apa dia sudah makan, apa dia baik-baik saja, apa dia masih saja susah makan, apa dia sudah tidur, apa dia sedang menangis, apa dia terluka sama sepertiku dulu. aku ingin ada disampingnya. Aku ingin meminta maaf padanya atas apa telah kulakukan dan aku ingin kembali ke sisinya. Aku tak akan mengulangi ini lagi dan akan menyayanginya lebih baik mulai dari saat ini. Namun semuanya kuurungkan karna aku tak sedang sendiri saat ini. Ada seseorang yang juga menyayangiku dan membutuhkanku saat ini. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan.

Cinta Dua Hati

Haruskah aku memulai semuanya dari awal dengan dia yang saat ini denganku ataukah dengan ‘dia’? inikah yang namanya ‘cinta dua hati’. Tapi apakah ‘dia’ masih mau menerimaku? Kupikir dia sudah terbiasa dengan tanpa adanya aku di hidupnya. Dia sedang memulai semuanya dari awal lagi tanpa ku. Apakah aku harus masuk dalam hidupnya lagi? Masihkah ia menerimaku? Kupikir tidak akan sama seperti dulu. Tapi inilah yang terlihat oleh mataku bahwa dia baik-baik saja saat ini. Dia tak pernah mengingatku. Dia tak lagi menginginkanku ada disampingnya.

Tapi bagaimana jika ternyata yang terlihat tak seperti yang terjadi di dalamnya? Bagaimana jika dia terluka dan masih mengharapkan aku untuk ada disampingnya? Bagaimana jika dia seperti yang terjadi padaku dulu? aku yang terluka. Aku yang ingin mengakhiri semuanya seandainya aku bisa amnesia. Akankah dia sama denganku? Aku tak ingin dia merasakan seperti yang kurasakan, bahkan membayangkannya saja membuatku ingin menangis dan ingin segera menemuinya. Kuharap aku bisa memeluknya sampai ia menjadi tenang. Aku tak ingin meninggalkannya. Aku akan terus di sampingnya, menjaganya, aku ingin memastikan dia bahagia. Aku yang akan membuatnya bahagia.

Tapi

Tapi bagaimana dengan seseorang yang kini menjadi kekasihku? Bagaimana aku mengatakan padanya. Aku juga tak ingin melihatnya sedih ataupun menangis. Meski ku tahu dia adalah seseorang yang kuat dari siapapun. Meskipun dia mengatakan dia rela jika aku bersama dengan yang lain asalkan aku bahagia. Tapi apakah aku bisa menutup mata melihat dia yang terluka. Haruskah aku melupakan ‘dia’ dan menjalaninya dari awal bersama kekasihku ini dan menyayanginya lebih baik mulai saat ini. Tapi aku merasa ini tak benar adanya. Karna hatiku masih menyayangi yang lain dan aku merasa membohonginya. Haruskah aku mengakhiri ini semua dan tak bersama siapapun? Akankah ini menjadi adil ketika tak ada satupun yang bahagia.

Advertisements