Sate Pak Jito

img_20160914_121810

Kali ini aku bakal share kuliner makanan nih. aku dan kekasihku menghabiskan waktu ke tempat yang tak jauh dari kampus dan harganya masih harga mahasiswa. Satu porsi cukup sate kambing ini cukup untuk berdua. Masalah rasa, hmm worth it banget. Dagingnya tuh lunaknya pas, kecapnya mantap, matengnya juga pas, gajihnya tuh eemm enak banget, lengkap sama bumbu-bumbu yang lain kaya bawangnya dan lain-lain. Enak deh. Apalagi kalo makan sate ini saat sedang hujan deras terus minumnya teh hangat. Uuumm perfectooo hahaha. 😍😍😍
Oh ya kalo mau coba sate yang terlihat lezat ini, nama tempatnya adalah Sate Pak Jito. Letaknya di Jalan Raya Ceger dekat gerbang belakang Kampus Politeknik Keuangan Negara STAN. Samping optik kacamata. Aku lupa apa namanya. Atau dekat Rechesee Ceger.
Dan lagi, ga cuma sate aja yang dijual disini, ada tongseng sama gulai. Enak deh pokoknya. Patut  banget dicoba. Ga nyesel deh. Dijamin.
Advertisements

Birthday Present

What’s this? Di dalam foto itu ada headset dan jam sebagai kado ulang tahunku yang ke 22 dari kekasihku. Mungkin aku tak bisa post gambar ini kemanapun kecuali di blog ini. Karna di blog ini tak kan ada satupun yang akan mengetahuinya. Biarlah ini akan menjadi kenangan antara aku dan dia saja. Aku hanya tak ingin ‘dia’ mengetahuinya dan akan membuatnya sedih nanti. Aku ingin menjaga perasaannya. Jadi apapun yang kulakukan dengan kekasihku, kemanapun aku pergi, aku tak pernah post itu kemanapun kecuali di blog ini.
Untuk kekasihku 
Untuk kekasihku, terima kasih atas semua kebahagiaan yang tlah kau bagi denganku. Semua pengorbanan kamu. Bahkan headset km rusak tapi kamu malah ngasih kado headset mahal ke aku. Ga cuma itu jam juga. Km tau jam aku pada mati. Perhatian banget sih. Haha. Makasih untuk semuanya honey. Aku sayang kamu. 😍

Overthinking

‘Aku tau apa yang km pikirin, km pengen dia kaya gitu juga ke kamu (minta bantuan km dan bilang you’re a great one)’, kekasihku mengatakan ini. Entahlah. Aku ga tau apa yang aku rasain saat ini.
Di satu sisi aku bahagia karna dia karna dia akhirnya minta bantuan ke orang lain untuk karya tulisnya. Sampai sebelum ini aku sangat khawatir dengan apa yang dia kerjakan. Apa dia benar baik-baik saja dan bisa mengerjakan semuanya ataukah dia terlalu memaksakan. Aku berulang-ulang kali menawarkan bantuan padanya. Tapi dia tak pernah skalipun mengatakan ‘iya’ atau benar-benar mengijinkan aku untuk membantunya.
Dan saat ini yang terjadi adalah dia meminta bantuan pada orang lain. Sedih seandainya memang dia tak ingin jika aku yang membantunya. Mungkin apa yang kukerjakan tak sebaik yang dikerjakan oleh orang itu, tapi aku yakin aku akan mengerjakan yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku ingin membantunya karna aku ingin dia tahu bahwa aku menyayanginya dan aku akan selalu ada untuknya. Tapi mungkin aku salah karna saat ini dia tak meminta bantuan padaku tapi pada yang lain.
Tapi ini hanyalah aku dan overthinking ku.
Dan di satu sisi pun aku senang karna dia ada yang membantu, dia baik-baik saja dan aku yakin karya tulisnya akan lebih baik saat ini. Karna aku tahu, orang yang dimintakan bantuan olehnya adalah orang yang hebat dan perfect dalam segala hal.
 Dan menimpali kata-kata kekasihku, mungkin tak sepenuhnya begitu.

Dilema

Selama empat bulan ini, semua hal yang kujalani bersamanya bukan berarti tanpa adanya rasa sayang. Aku menyayanginya. Aku bahagia dengannya. Aku bangga memilikinya. Dia tak pernah berhenti membuatku bahagia. Dia yang slalu bertahan, slalu menenangkanku, slalu mengalah, slalu percaya padaku, rela berkorban untukku, rela jika aku masih menyayangi orang yang lain dan orang yang rela jika aku bersama yang lain asalkan benar aku bahagia. Aku tak mengerti, apa ini sungguh yang dinamakan dengan ‘sayang’? bahkan aku tak pernah rela jika ia bersama yang lain. Bahkan aku termasuk orang yang pecemburu.  Tapi dia mau menerima ku. Menerima segala kekuranganku. Aku bukanlah orang yang pantas untuk dibanggakan, parasku juga tak cantik, dan mungkin aku lah yang slalu ingin mengakhiri hubungan ini dengannya. Dan kini aku memiliki perasaan itu lagi, aku ingin mengakhiri ini.

Aku telah menyakitinya begitu banyak. Terlalu banyak. Dan aku tak mampu untuk membuatnya bahagia. Aku hanya akan menjadi seseorang yang melelahkan untuknya. Terlebih, mungkin ini sudah cukup untuk membuatnya sakit karna aku belum bisa melupakan ‘dia’, seseorang yang juga pernah ada di hatiku. Setiap hal yang kulakukan dengannya membuatku mengingat ‘dia’.

Dan jika aku diijinkan untuk jujur, entah ini sungguh yang kurasakan atau aku hanya mencari alasan. Mungkin awal mula hubungan ini pun bukan karna aku menyayanginya tapi karna aku tak ingin terluka. ‘dia’ ingin mengakhiri hubungannya denganku dan untuk membuatku baik-baik saja, untuk memastikan bahwa aku takkan terluka seperti dulu lagi, untuk memastikan aku bisa menjaganya hanya untukku. Aku memutuskan untuk bersama yang lain, yang hingga saat ini telah empat bulan aku menjalani hubungan ini. Dan aku tak ingin lagi melukainya lebih dalam. Mungkin sudah seharusnya cukup sampai disini.

Haruskah berakhir saat ini ?

Aku telah berulang kali mengatakan padanya untuk berhenti dan mengakhiri saja hubungan ini. Namun terakhir aku mengatakan hal itu, dia bilang ‘aku ga akan nyerah, lain kali kalo kamu bilang putus lagi aku gamau, aku mau sama kamu dan aku bahagia sama kamu, aku ga akan putus sama kamu’. Dan entah kenapa aku tenang mendengarnyaa. Aku tertawa. Apa aku ikut bahagia?

Mungkinkah aku mulai menyayanginya lebih ?

Apa mungkin aku mulai menyayanginya lebih? Selama ini aku bahagia bersamanya. Meski berkali-kali bertengkar tapi bukankah dalam sebuah hubungan memang diperlukan adanya pertengkaran kecil untuk membuat hubungan itu tidak membosankan? Dan entah bagaimana masalah diantara kami terselesaikan tidak terhitung sampai satu hari. Entah aku atau dia yang akan menghubungi lebih dulu. meminta maaf. Kemudian satunya lagi juga akan minta maaf. Dan berakhirlah permasalahan diantara kami. Begitu terus. Bukankah seharusnya hubungan ini akan bertahan untuk waktu yang lama?

Sampai suatu saat

Sampai di suatu saat aku mulai menjadi overthinking. Aku selalu berpikir tak seharusnya aku bersamanya. Aku seharusnya bersama dengan ‘dia’. Seharusnya saat itu aku menyelesaikan masalahku dengan ‘dia’. Seharusnya aku tak membuat keputusan untuk bersamanya. Aku hanya takut jika ‘dia’ menghianatiku dan aku akan terluka. Padahal yang terjadi saat ini adalah justru aku yang menghianati ‘dia’. Aku menyesalinya karna saat ini aku menyakiti keduanya. Dan aku masih menyayangi ‘dia’. Aku sangat menyayanginya. Aku merindukannya. Setiap saat. Aku selalu mengingatnya di setiap aku terbangun, di saat aku menjalani hidupku dan disaat aku ingin tidur. Apa yang dia lakukan, apa dia sudah makan, apa dia baik-baik saja, apa dia masih saja susah makan, apa dia sudah tidur, apa dia sedang menangis, apa dia terluka sama sepertiku dulu. aku ingin ada disampingnya. Aku ingin meminta maaf padanya atas apa telah kulakukan dan aku ingin kembali ke sisinya. Aku tak akan mengulangi ini lagi dan akan menyayanginya lebih baik mulai dari saat ini. Namun semuanya kuurungkan karna aku tak sedang sendiri saat ini. Ada seseorang yang juga menyayangiku dan membutuhkanku saat ini. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan.

Cinta Dua Hati

Haruskah aku memulai semuanya dari awal dengan dia yang saat ini denganku ataukah dengan ‘dia’? inikah yang namanya ‘cinta dua hati’. Tapi apakah ‘dia’ masih mau menerimaku? Kupikir dia sudah terbiasa dengan tanpa adanya aku di hidupnya. Dia sedang memulai semuanya dari awal lagi tanpa ku. Apakah aku harus masuk dalam hidupnya lagi? Masihkah ia menerimaku? Kupikir tidak akan sama seperti dulu. Tapi inilah yang terlihat oleh mataku bahwa dia baik-baik saja saat ini. Dia tak pernah mengingatku. Dia tak lagi menginginkanku ada disampingnya.

Tapi bagaimana jika ternyata yang terlihat tak seperti yang terjadi di dalamnya? Bagaimana jika dia terluka dan masih mengharapkan aku untuk ada disampingnya? Bagaimana jika dia seperti yang terjadi padaku dulu? aku yang terluka. Aku yang ingin mengakhiri semuanya seandainya aku bisa amnesia. Akankah dia sama denganku? Aku tak ingin dia merasakan seperti yang kurasakan, bahkan membayangkannya saja membuatku ingin menangis dan ingin segera menemuinya. Kuharap aku bisa memeluknya sampai ia menjadi tenang. Aku tak ingin meninggalkannya. Aku akan terus di sampingnya, menjaganya, aku ingin memastikan dia bahagia. Aku yang akan membuatnya bahagia.

Tapi

Tapi bagaimana dengan seseorang yang kini menjadi kekasihku? Bagaimana aku mengatakan padanya. Aku juga tak ingin melihatnya sedih ataupun menangis. Meski ku tahu dia adalah seseorang yang kuat dari siapapun. Meskipun dia mengatakan dia rela jika aku bersama dengan yang lain asalkan aku bahagia. Tapi apakah aku bisa menutup mata melihat dia yang terluka. Haruskah aku melupakan ‘dia’ dan menjalaninya dari awal bersama kekasihku ini dan menyayanginya lebih baik mulai saat ini. Tapi aku merasa ini tak benar adanya. Karna hatiku masih menyayangi yang lain dan aku merasa membohonginya. Haruskah aku mengakhiri ini semua dan tak bersama siapapun? Akankah ini menjadi adil ketika tak ada satupun yang bahagia.

One Day …

Good morning everyone …

Well pagi ini aku pengen share ke kalian kisahku dan pengalamanku. Asal mula petualangan aku ini dimulai. Pengubah segalanya. Jika ditanya, apakah aku menyesalinya, iya sesekali aku menyesalinya. Tapi satu sisi lain, aku harus mengambil hikmah dari setiap apapun yang terjadi, apapun masalah kita. Is it? Kita diuji oleh Tuhan karna Tuhan tahu kita akan mampu menghadapinya. Dikatakan sulit memang sulit. Tapi kata Tuhan, ini untuk menjadikan aku dan keluargaku lebih kuat dan untuk mencapai suatu kesuksesan memang dibutuhkan pengorbanan, usaha, kesulitan. Dan mungkin inilah pengorbanan itu.

Masih ingatkah ceritaku yang lalu? Saat aku masih kelas 6 SD. Disinilah awal kisah kami bermula. Saat itu baru beberapa hari dan belum ada satu minggu aku dapet surat yang isinya kalau aku ini berhasil meraih rangking III. Kemudian yang terjadi adalah papa mendapatkan masalah yang berujung pada dirinya yang harus melarikan diri. Entah apa kesalahannya. Tapi yang kutahu dia sedang berurusan dengan Chinese. Papa pergi entah kemana tanpa diketahui sipapun. Bahkan mama atau keluarga papa yang lain. Tak satupun tahu.

Mama mencoba bertahan menghidupi kami saat itu dengan bekerja dimana saja. Mama mengajar tari di TK- TK seperti TK Pelangi, TK Sang Timur, Semarang 2000 dan TK KiddyLand, sebuah TK untuk anak-anak yang sedari kecil diajarkan Bahasa Inggris. Bahkan keseharian mereka menggunakan Bahasa Inggis. Mau tak mau mama juga belajar Bahasa Inggris dari sana, Selain itu, mama juga bekerja sebagai seorang perias, bawahan eyang yang memang namanya telah dikenal leh kalangan perias di Semarang. Tapi satu hal tentang pekerjaan mama yang satu ini, mama tak pernah mendapatkan bayarannya. Mama hanya mengikuti perintah eyang sebagai menantu yang harus patuh pada mertuanya. Eyang juga sering menyewakan baju-baju pengantin, kebaya dan sebagainya tapi sekali lagi mama tak pernah mendapatkan bayaran apapun. Mama juga melakukan pekerjaan yang lain, sebagai makelar jual beli motor dengan jaminan BPKP dan mama juga sebagai bawahan eyang. Eyang memang memiliki banyak pekerjaan, sangat kreatif, tapi selalu dialihkan kepada mama. Dan setiap kesalahan yang eyang lakukan, akan ia katakan pada pelanggannya bahwa itu adalah kesalahan mamaku. Hingga pernah eyang menjaminkan BPKP motor milik orang lain, ketika motor ini akan diambil, BPKP ini tidak ada. Eyang menyalahkan mama yang katanya tak mumpuni dan katanya pada pelanggan bahwa semua yang mengurus adalah mamaku.

Kalian pasti tahu apa yang akan terjadi kemudian. Ketika suatu malam kita semua sedang tertidur lelap. Tiba-tiba ada suara mobil polisi datang, bukan karna ada maling di daerah sekitar kami, tetapi ia berhenti di depan rumah kami dan langsung masuk ke dalam rumah kami. Ada beberapa polisi disana dan satu perempuan Chinese. Mama keluar, ke ruang tamu, mempersilahkan mereka untuk duduk dan maksud kedatanngan mereka. Perempuan Chinese itu langsung mendatangi mama dan marah-marah sama mama. Sambil berdiri kedua tangannya mendorong mama sampai mama terduduk. Dan si perempuan itu tadi masih melanjutkan amarahnya. Mama mencoba menjelaskan tapi selalu dipotong. Terus seperti itu. Sampai tetangga-tetangga semua datang mengerumuni rumah kami. Bertanya ada apa, apa yang sedang terjadi, siapa yang ditangkap dan kenapa. Aku tahu pasti mama malu. Kami juga. Tapi rasa malu saat itu tertutupi dengan pedihnya hati kami saat ibu kami dimaki-maki orang. Sedih. Aku, kakakku, dan dua adikku hanya melihat dari balik tembok. Saat mama didorong dan dimarah-marahi. Sumpah serapah sudah aku ucapkan. Bahkan kami memiliki nama untuk perempuan Chinese itu dengan sebutan ‘Cina Leng-Leng’. Entah bagaimana asalnya nama itu tapi kami merasa itu nama yang paling buruk. Entah kami sudah mendoakan apa saja, ‘semoga dia kecelakaan dan mati’ atau ‘semoga orang itu bla  bla  bla’. Aku kesal. Kami kesal. Terlebih saat mama dibawa polisi-polisi itu ke dalam mobil polisi. Aku kesal. Marah. Sedih. Kami menangis. Bagaimana bisa mama dibawa. Lalu bagaimana sekolah kami besok pagi. Mama hanya berpesan ‘sekarang yang memegang kendali keuangan keluarga itu mbak putri, besok kalian berangkat sekolah, mama besok pulang’.

Malam itu berakhir dengan mama yang dibawa pergi. Papa menghilang. Tak ada siapapun orang di rumah selain kami. Kami hanyalah anak-anak kecil. Kami masih SD. Kecuali kak putri yang saat itu kelas 1 SMP. Bisa apa anak kelas 1 SMP mengatur keuangan keluarga. Kami tidak tidur sepanjang malam. Kami hanya memikirkan apa yang dapat kami lakukan esok. Kami merindukan ibu kami.

Dan siapa yang kami salahkan saat itu? ‘Cina Leng-Leng’. Karna saat itu aku tak pernah tahu bahwa eyangku lah dibalik semua ini. Dan ia melepaskan tanggungjawabnya dan mengatakan bahwa itu adalah salah mama. Padahal mama tak pernah sedikitpun mendapatkan uang dari eyang. Aku benci eyang. Aku benci sekali. Dia yang memisahkan kami.

Dan dari malam inilah, hidupku, kakakku, adik-adikku berubah. Segalanya tak lagi sama.

I wish …

Di pagi yang cukup serah, satu telepon bisa saja menjadi perubah mood satu hari ini. Seperti pagi ini, telpon dari papa. Niatku adalah untuk meminta gaji tiap dua minggu. Tapi hal yang tak kusangka terjadi hari ini. Papa berniat pergi dari rumah tante hari ini. Papa sudah disana sekitar 3 tahun dan sekarang ingin pergi lantaran papa semacam dimarahin sama tante. Papa memang kakaknya tante tapi tante sangat pintar, apapun yang dikatakannya pasti ada benarnya. Tante kadang mengkritik, mungkin memang untuk maksud yang baik tapi terkadang tante tidak tahu bahwa itu menyakiti hati. Dan yang dapat papa lakukan hanyalah diam, dalam hati papa yang paling dalam aku tahu bahwa ia ingin sekali pergi, ia ingin bebas dan ia ingin hidupnya tidak bergantung lagi pada tante. Tapi apa daya papa, karna papa tidak memiliki suatu penghasilan. Bahwa memang benar ia bergantung pada tante. Karnanya ia tak dapat pergi. Ia harus bertahan ketika hatinya sakit. Ia harus mengurungkan niatnya untuk sekarang, menuruti semua apa yang diminta meski kadang ia tak ingin. Ia harus merendah diri meski ia tak ingin. Aku tahu papa bukanlah orang yang akan merendah semudah itu. Tapi karna keadaan yang memintanya. Ia harus melakukannya.

Aku hanya berharap aku cepat dewasa dan aku cepat memiliki penghasilan untuk menghidupi ayahku ini. Agar aku dapat membuatnya merasa bebas lagi. Tak perlu lagi merendah. Bahkan jika ingin menikah, aku akan merelakannya. Aku hanya inginkan satu, kebahagiaanya. Aku ingin mengganti semua hal yang pernah diberikan oleh tante kepadaku dan kepada papa. Aku ingin membalas budi atas segala kebaikannya. Merawat papa sampai saat ini yang bahkan mama pun gamau dan juga merawat ku selama ini melalui papa. Aku ingin membalas semuanya dan membawa papa keluar dari sana. Aku ingin membelikan papa rumah sendiri. Hanya untuk papa. Untuk kebahagiaanya dan tempat pemancingan disampingnya. Aku akan menopang semua kebutuhan papa dan aku yang akan menjaganya sampai ia tua nanti. Aku bangunkan rumah sederhana, tempat pemancingan, toko kecil, dan pekarangan untuk papa bersantai.

Aku hanya ingin mengatakan pada papa. Bersabar ya pa… sebentar lagi aku akan menjadi anak yang sukses. Doakan aku agar semuanya berjalan dengan lancar.

Aamiin.

I love you, dad.

 

Mirror

Seperti maksud awal mengapa aku ingin membuat blog ini, aku ingin menceritakan tentang diriku, kisah hidupku dan apa yang ingin kulakukan, apa yang kuharapkan dan bagaimana aku menjalaninya. Hari ini, aku akan kembali memperkenalkan diriku. Bagaimana aku terlihat.

Kelas 6 SD menjadi masa yang sulit untukku. Saat itu aku masih di suatu kota bernama Semarang. Aku bahagia ada di kota ini. Aku sekolah di sekolah swasta yang cukup bagus. Apa perlu aku menyebutkan nama sekolah itu? Aku sangat bangga ketika aku dapat mengatakan pada orang lain bahwa aku pernah sekolah di sana. Banyak sekali Chinese dan kamu pasti tahu kebanyakan Chinese itu enak dipandang. Bahkan mama dan papa memasukkan kami berempat kesana (aku dan putri, raka, anggun). Kami bukan termasuk golongan Chinese, kami lebih banyak mirip ke mama yang punya gen putih daripada papa yang coklat. Walaupun katanya papa dulu itu putih tapi karena bandel dan suka main, papa jadi coklat.

Well, kehidupan sekolahku saat di kelas 6 SD itu seharusnya baik-baik saja. Saat itu bahkan aku sudah memiliki pacar. Namanya Alan. Pacaran saat dulu berbeda dengan pacaran saat ini. Dulu bahkan kami tak pernah memeluk. Jangankan memeluk, berpegangan tangan pun jarang. Berpacaran adalah status bahwa “dia milikku dan aku miliknya, dan aku tidak boleh dekat lelaki manapun selain dia”. Sampai suatu waktu, karna aku ini tomboy dan aku lebih suka main dengan kebanyakan laki-laki, akhirnya saat pulang sekolah dia meminta aku menemuinya. Di suatu lorong yang sepi, temannya yang lain menjaga di ujung lorong kalau-kalau ada guru yang lewat. Bukan bermaksud untuk mesum. Tapi dia hanya mengajakku berbicara. Dia duduk dan aku berdiri. Sambil dia menatapku dia bilang “kamu tau ga sih, aku tuh pencemburu dan pemalu”. Dan aku hanya bisa tertawa terlebih saat aku lihat wajahnya memerah. “ohhhh… so cute” pikirku. Itu yang sampai saat ini ga pernah bisa aku lupain.

Dan lagi aku memiliki guru yang sangat baik tapi galak. Pasti membingungkan bukan? Tapi memang seperti itulah guru SD ku ini. Dia galak karna ketika dia tahu muridnya tidak mematuhinya, dan tidak mengikuti apa yang diperintahkannya. Dia adalah sosok guru yang sangat tegas. Namanya Bu Agustin. Karna kami akan menghadapi ujian maka kami harus menghafal banyak materi. Dia memberikan materi kepada kami di selembar kertas, kemudian meminta kami untuk memfotokopi dan menempelkannya di buku tulis kami. Keesokan harinya kami harus mengikuti kuis atas materi yang diberikan kemarin. Padahal materi kemarin bukan hanya selembar, tapi berlembar-lembar. Apalagi materi ilmu pengetahuan sosial saat itu, kami harus menghafalkan nama negara, berapa luas wilayah, jumlah penduduk, mayoritas agama, musim yang ada di negara itu, apa saja hasil perkebunan atau perikanan, ibu kotanya dimana, dan bla bla bla. Saat itu, dalam satu hari kami dapat menghafalkan satu bagian dari benua misalnya Amerika Utara. Dan lagi, kami menghafal seluruh negara di semua benua. Itu hanya salah satu mata pelajaran. Ada berapa pelajaran? Banyak. Tapi satu hal yang harus diketahui, dia adalah sosok satu-satunya yang dapat membuat nilaiku menjadi naik. Bahkan aku mendapat peringkat ketiga dalam setengah semester setelah sebelumnya aku tidak pernah masuk ke dalam lima besar. Dia satu-satunya, yang membuka mataku dan hatiku hingga saat ini bahwa aku suka menghafal dan aku ingin belajar. Dan dia adalah sosok guru yang sangat dekat denganku, bahkan saat ulangtahunnya, ketika aku ingin memberikan hadiah berupa kue, dia sudah tahu bahwa aku akan memberinya kejutan. Karna memang, kakakku yang diajarnya dulu juga seperti itu. Dan bagi kakakku, dia juga merupakan guru terbaik kami.

Dua hal yang paling kuingat dari guru terbaikku ini. Pertama, dia adalah guru yang rela mengorbankan segalanya untukku agar aku dapat mengikuti ujian nasional. Saat itu, karna suatu masalah keluarga aku harus pergi dari sekolahku ini, aku harus meninggalkan semua materi yang selama ini telah aku hafalkan, meninggalkan semua teman-temanku, pacarku, guruku dan ujian nasionalku. Secara tiba-tiba kami harus pergi. Dan saat itu, karna terlalu mendekati ujian aku tidak diijinkan masuk sekolah manapun. Hanya satu pilihan, aku kembali ke sekolahku yang lama. Tapi keadaan itu tak memungkinkan. Kami sedang tak ingin dilihat manapun. Dan saat aku ingin melepas rinduku pada sekolahku, aku iseng untuk menelpon guruku tersayang ini. Katanya pada mamaku “apapun akan saya lakukan, saya akan membiayai anak anda, semuanya, apapun yang dibutuhkan asalkan dia bisa mengikuti ujian nasional”. Aku menangis. Dalam hatiku aku ingin kembali tapi itu tak mungkin. Dan akhirnya aku hanya bisa membiarkan ujian nasional berlalu begitu saja. Aku telah melewatkan satu tahun pendidikanku. Itu mengerikan karna hingga saat ini aku selalu merasa aku lebih tua diantara teman-teman seangkatanku.

Dan yang kedua, Bu Agustin pernah mengatakan padaku saat ia menyerahkan nilai untukku. Sesuatu yang kusebut “kelemahan”. Katanya, gigimu itu kalau tidak dikawat nanti bisa terus maju. Coba ajak bicara kedua orangtua dan minta untuk segera dikawat biar kamu cantik. Ini adalah pertama kalinya aku memikirkan tentang diriku. Aku tak pernah sekalipun memperhatikan itu. Saat itu, tidak terlalu terlihat jadi aku tidak pernah menggubrisnya. Sampai Bu Agustin yang mengatakannya. Dan aku cukup sedih mendengarkan terlebih saat aku mengatakannya pada mama, karna saat itu papa sedang tidak ada jadi pemasukan mama menipis. Percakapan itu berlalu begitu saja. Hilang. Tak pernah lagi kami mengungkitnya karna setelah itu sesuatu yang besar terjadi dan itu lebih lebih dan lebih lagi membuatku enggan untuk memintanya pada orangtuaku.

Inilah cerminan diriku. Kalian pasti bisa membayangkannya saat ini. Sejelek apa aku ini. Aku malu? Iya aku sangat malu. Bahkan aku tak mengungkapkannya kepada siapapun. Siapapun. Bahkan mama dan papa. Aku sangat ingin merubah keadaanku. Tapi mungkin belum saatnya. Aku hanya merasa sangat sedih saat orang lain mengejekku dengan kelemahanku itu. Terutama saat SMP. Seseorang menyukaiku dan memintaku untuk menjadi pacarnya dan ketika aku menolaknya dia justru mengejekku dengan kelemahanku. Aku sedih. Kecewa. Aku benci mereka yang mengejekku. Bahkan adikku pernah sekali melakukannya padaku. Saat itu kami sedang bertengkar dan akhirnya kata-kata itu muncul “untu maju”. Aku hanya terdiam dan merasakan marah, sedih sedalam-dalamnya. Bagaimana bisa satu keluarga tapi saling menghina dengan kelemahan yang lain. Aku tak pernah berpikir dia akan mengatakannya. Dan dia berhenti mengatakan itu saat mama memarahinya. Dan dari sana, aku berpikir, aku mulai membencinya.

Aku sangat malu ketika aku harus menuliskan ini. Aku seringkali berhenti. Apa aku yakin menuliskannya? Apakah tak apa ketika orang lain mengetahuinya? Mungkin jika ada yang mengenalku dengan tulisanku saat ini. Aku akan merasa sangat malu. Tapi … mungkin dari sinilah aku harus memulainya. Mencoba untuk menerima diri ini. Keadaan ini. Kelemahan ini. “Learning to love yourself, it is the greatest love of all”, lagu ini yang akan selalu membuatku bersabar dan menerima setiap apa yang ada pada diriku. Setiap kelemahanku. Karna inilah aku.

Dan harapanku ke depan, aku berharap aku bisa menutupinya dengan kelebihanku yang lain. Atau lebih jauh lagi, aku ingin memperbaikinya. Aku menunggu saat-saat aku bisa memperbaikinya. Saat nanti aku telah bekerja sendiri, mendapatkan penghasilan sendiri, maka aku akan memperbaiki ini.

Dan aku akan mewujudkannya.

Behave, Ola!

 

Milky Day

blog 1Well, hari ini aku pengen banget share tentang resto yang satu ini. Namanya “Milky Day”. Letaknya ada di Sektor Sembilan dekat Pondok Pucung. Tempatnya nyaman banget, kursi yang empuk, tatanan yang unik dan suasana yang dingin bikin kamu bakal betah buat disana terus deh. Apalagi ada juga fasilitas tempat makan yang ada di lantai dua, outdoor, jadi buat siapa aja yang mau sama ngrokok bisa juga. Nyaman deh pokoknya.

Terus berkaitan sama minumannya yang mayoritas adalah susu, kemarin yang sempat aku dan sahabatku, ariesty beli saat itu adalah rasa coklat dan oreo. Yummy banget. Susunya kental tapi ga amis juga dan saking enaknya rasanya aku pengen pesen dua tapi berhubung ga boleh di luar budget akhirnya aku mengurungkan niat untuk itu. Maklum lah ya, namanya juga anak kosan.

Dan yang paling ditun
ggu adalah makanannya, ada banyak pilihannya dan yang kita pilih saat itu adalah roti bakar pake kornet telur. Rasanyaaaaaa…. Ummm dijamin pengen lagi. Dan jangan salah, satu porsi ini udah cukup buat ngenyangin perut kamu yang lagi keroncongan. Dan untuk nasi gorengnya… worth it lah untuk dicoba. Dari 10 bintang aku kasih nilai 8 deh.

So, buat kamu yang lagi kelaparan dan nyari tempat baru buat dicoba dateng aja ke “Milky Day” dijamin puas!

Bye … ^^

 

My List Culinary

IMG-20160816-WA0004

Hai hai… jadi sekarang aku datang dengan membawa ‘my list culinary’. Aku seneng banget kalo disuruh jalan dan nyobain aneka makanan. Apalagi nasi goreng. Siapa sih yang ga pernah nyobain nasi goreng. Apalagi di Indonesia, rasanya tuh kurang pas atau syaratnya belum terpenuhi seandainya suatu warung atau restoran dia ga jual yang namanya nasi goreng. So, setiap aku pergi kemana aja, aku lebih milih beli nasi goreng, kecuali memang tempat itu ga jual. Dan … itu dia list yang udah pernah aku kunjungin sama ariesty, sahabatku selama aku ada di Bintaro ini dan mesti mesti dan mesti banget kalian coba. Aku ga pernah dateng ke suatu tempat kalo makanannya disitu ga enak. Haha. Well, selamat berkuliner ^^

By the way, disitu ada list yang belum dicoret artinya aku belum kesana atau sedang dalam proses pengen kesana. Ada satu list yang nyempil ‘headset’. Nah itu alasannya adalah karna aku dan ariesty lagi pengen banget beli headset dan akhirnya tercapai juga. Tapi sih lebih tepatnya, dia beliin aku headset for my birthday present. So sweet hihi ^^

For The Very First Time

This is my very first post. So, let me introduce myself. You can call me “olatama”. Someone that really really special gave this name to me. It was so cute and i like it. And the reason why i started this blog is i need a place to share everything like my life routines, my favorite things, what i feel, and what im thinking about.

Well, mungkin aku harus pakai bahasa Indonesia aja dari sini, karna aku ga begitu pandai bahasa inggris tapi aku pengen bisa. Mmm, i keep trying. But sometimes, I’m so shy if what i share in english would wrong. Mungkin iya, bisa jadi pelajaran suatu saat nanti but maybe no, ketika aku harus menahan maluku. Jadi mungkin aku akan lebih sering menggunakan bahasa Indonesia disini. Hehe

Dan di blog ini nantinya aku ingin share banyak sekali dan yang paling utama adalah aku ingin berbagi tentang kisahku di masa lalu. That truly happened to me. Aku ingin memaksa otakku untuk mengingatnya lagi yang mungkin akan berguna untukku suatu saat nanti atau mungkin aku bisa menceritakannya pada anak cucu haha. Entah blog ini masih exist atau tidak.

So, wait for me … bye.